Pemikiran politik modern di Indonesia diawali oleh bangkitnya nasionalisme modern. Hal ini berlangsung mulai sekitar tahun 1900-1910an. Dengan hadirnya mahasiswa serta cendikiawan muda yang bisa menuntut ilmu di Belanda, menjadi awal lahirnya kesadaran politik dan pergerakan nasional. Berkembangnya kesadaran politik dan pergerakan nasional ini ditandai dengan banyaknya organisasi serta partai-partai yang berdiri di Indonesia untuk melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Organisasi tersebut antara lain yaitu Budi Utomo, Partai Komunis Indonesia, Taman Siswa dan masih banyak lainnya. Adanya organisasi-organisasi dan partai-partai tersebut memunculkan pengaruh pandangan politik yang berbeda. Dengan adanya berbagai pengaruh politik yang berbeda di Indonesia, menjadikan hal ini sebagai latar belakang adanya perdebatan ideologi yang terus berkembang dan mewarnai Indonesia.
Berkembangnya pengaruh pandangan politik di Indonesia menimbulkan berbagai keberagaman yang membuat Herbert Feith, seorang tokoh Australia, membahas lebih dalam mengenai pandangan politik Indonesia didalam bukunya yang berjudul “Pengantar” dalam Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965 (Jakarta: LP3ES, 1988). Dalam bukunya tersebut ia membahas perkembangan pandangan politik di Indonesia dengan membaginya menjadi tiga periode, yaitu: (1) Periode revolusi bersenjata (Agustus 1945- Desember 1949). Pada masa ini masih sangat terlihat bahwa pandangan politik di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kelompok atau orang-orang yang memelopori lahirnya pergerakan nasional seperti Soekarno, Moh. Hatta. Sutan Syahrir dan masih banyak tokoh lainnya. Pada masa ini terdapat sebuah peristiwa bersejarah yaitu lahirnya Pancasila sebagai hasil dari buah pemikiran polotik pada masa tersebut. (2) Periode liberal (1950-1959). Pada periode ini banyak muncul para golongan muda yang banyak memiliki perbedaan pendapat dengan golongan muda sebelumnya. Pada periode ini banyak terjadi konflik dan perdebatan yang cukup sengit. Sehingga periode ini dikenal sebagai periode pertentangan ideologi. (3) Periode Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Periode ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Soekarno yang terlalu mendominasi pandangan politik saat itu.
Dengan adanya tiga periode tersebut, Feith (1998) menyebutkan bahwa mungkin akan terjadi pertentangan hebat yang akan menimbulkan berkembangnya lima ideologi di Indonesia yaitu nasionalisme radikal, tradisionalisme Jawa, Islam, sosialisme demokratis, dan komunisme. Dari kelima ideologi tersebut, Islam merupakan dasar ideologi yang paling banyak memberikan pengaruhnya. Banyak partai besar yang berlandaskan ideologi Islam sebagai buktinya antara lain seperti NU dan Masyumi. Kemudian nasionalisme radikal juga cukup memberikan pengaruh yang besar, hal ini dibuktikan dengan pengaruhnya terhadap pembentukan PNI. Sementara pada komunisme sudah terlihat jelas pengaruhnya melalui PKI. Selanjutnya meskipun tradisionalisme Jawa tidak cukup populer tapi banyak organisasi yang dipengaruhi oleh nilai nilai yang dianutnya. Terakhir adalah demokratis yang dianggap paling berhasil mempengaruhi pemikiran politik di Indonesia. Hal ini sangat terlihat jelas melalui PSI. Ideologi demokratis lebih menekankan kepada kebebasan individu, keterbukaan terhadap arus intelektual dan penolakan terhadap chauvinisme.
Berbeda dengan Ir. Soekarno dan orang Indonesia pada umumnya. Pada tahun 1926, Soekarno menulis tentang Nasionalisme, Islam, dan Marxisme sebagai tiga ideologi utama yang mencakup pemikiran politik di Indonesia. Beliau mengeluarkan istilah NASAKOM yang merupakan singkatan dari Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Dengan ini beliau menginginkan agar sikap nasionalis juga berlandaskan pemikiran agama khusunya keislaman dan komunisme. Beliau mengatakan dalam pidatonya “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” bahwa ketiga pemikiran ini sebenarnya mempunyai nilai dan cita-cita yang sama (Soekarno, 1964). Banyak yang menentang hal ini, mereka menganggap bahwa ketiga ideologi tersebut sangat bertentangan, namun Soekarno meyakini bahwa kombinasi ketiga ideologi ini memiliki tujuan dan cita-cita yang sama sehingga akan menimbulkan sinkronisasi.
Dari apa yang telah dijelaskan diatas, dapat disimpulkan bahwa pandangan politik di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai ideologi. Feith menyebutkan ada lima ideologi yang mempengaruhi, sedangkan Ir Soekarno menyebutkan ada tiga ideologi. Namun kesemua ideologi tersebut yaitu Tradisionalisme Jawa, nasionalisme radikal, komunisme dan sosialisme demokratis, serta nasionalisme, islamisme dan marxisme sebenarnya kesemuanya telah tercakup dalam ideologi bangsa Indonesia saat ini yaitu Pancasila.








